Lihat Peta Kabupaten Kebumen di peta yang lebih besar

Album Geodet 82 Gama

Minggu, 14 November 2010

Pengukuran Tinggi Trigonometris

Pengukuran Tinggi Trigonometris

Pada pengukuran tinggi secara trigonometris ini beda tinggi diperoleh secara tidak langsung, karena yang diukur adalah sudut miringnya ( helling ) atau sudut zenit. Apabila jarak mendatar atau jarak miringnya diketahui atau diukur, maka dengan memakai hubungan geometris dapat dihitung beda tinggi yang hendak ditentukan itu. (Lihat gambar 1).

Keterangan gambar 1. :
A = tempat berdiri instrumen
B = titik yang akan dicari tingginya
i = tinggi instrumen
α = sudut miring (helling)
D’ = jarak miring antara titik A dan titik B
D = jarak mendatar antara titik A dan titik B
Ba = pembacaan rambu/baak ukur (benang atas)
Bt = pembacaan rambu/baak ukur (benang tengah)
Bb = pembacaan rambu/baak ukur (benang bawah)
Benang tengah sebagai cheking 2 Bt = Ba + Bb

Unsur-unsur yang diukur adalah : i, Z, Ba ( pembacaan benang atas ), Bt ( pembacaan benang tengah ) dan BB ( pembacaan benang bawah )

Sehingga perhitngannya adalah :

D = A (Ba – Bb) x cos2 α + B cos α
A = konstanta pengali, besarnya biasa dipakai 100
B = konstanta penambah, dianggap kecil sekali, maka B = 0

Jadi jarak datar adalah :

D = 100 (Ba – Bb) x cos2 α

Hitungan beda tinggi adalah :

Ϫ hAB = D x tan α + i – Bt
Ϫ hAB = beda tinggi antara titik A dan titik B

Jadi tinggi titik B adalah :

HB = HA + Ϫ hAB

Comments :

0 komentar to “Pengukuran Tinggi Trigonometris”

Posting Komentar

Page View Histas

Blog Archive

 

Copyright © 2009 by GeoMecator

Template by Blogger Templates | Powered by Blogger